Kembali

FRAMBUSIA : Pengertian, Penyebab, Faktor Resiko, Gejala dan Pengobatan


Apa Itu Frambusia?

Frambusia adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum pertenue, yang menular melalui kontak langsung dengan ruam kulit penderita atau luka terbuka di kulit. Penyakit ini paling sering menyerang anak-anak di bawah 15 tahun dan dapat menyebabkan kerusakan serius pada kulit, tulang, dan sendi jika tidak diobati. Gejalanya meliputi benjolan seperti kutil yang dapat berkembang menjadi luka terbuka (ulkus frambusia), penebalan kulit pada telapak tangan dan kaki, serta nyeri pada tulang dan sendi.

Frambusia merupakan penyakit tropis yang termasuk ke dalam kelompok penyakit tropis terabaikan (Neglected Tropical Diseases). Bakteri Frambusia berbentuk spiral dan hanya dapat dilihat dengan mikroskop lapangan gelap menggunakan metode fluoresensi. Penularannya melalui lalat atau melalui kontak langsung dari cairan luka penderita ke orang yang mempunyai kulit yang luka atau tidak utuh.

Penyakit Frambusia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Indonesia merupakan satu-satunya negara di regional Asia Tenggara yang melaporkan adanya kasus Frambusia berdasarkan laporan WHO tahun 2012. Pada tahun 2014, dilaporkan adanya 1.521 kasus Frambusia di Indonesia, terutama di Provinsi Banten, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua, dan Papua Barat. Hasil survei serologi tahun 2012 di beberapa kabupaten/kota, menunjukkan prevalensi Frambusia berkisar antara 20–120 per 100.000 penduduk usia 1–15 tahun. Beberapa daerah yang mempunyai riwayat endemis Frambusia, seperti Provinsi Aceh, Jambi, Sumatera Selatan, tidak melaporkan adanya Frambusia, tetapi belum dapat dipastikan sebagaiwilayah bebas penularan Frambusia.

Penyebab Frambusia

Frambusia atau yaws adalah infeksi yang terjadi akibat paparan bakteri jenis Treponema pertenue. Bakteri ini dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka yang terbuka atau goresan pada kulit. Bila tidak segera mendapatkan penanganan, kondisi ini dapat menyebabkan cacat tubuh seumur hidup, khususnya pada anak-anak. Melansir dari World Health Organization (WHO), 75-80% frambusia terjadi pada anak-anak yang berusia kurang dari 15 tahun, dengan puncak kejadian dialami oleh anak usia 6-10 tahun.

Penyakit ini masuk ke dalam kelompok penyakit menular. Penularannya terjadi melalui kontak langsung dengan ruam yang muncul pada kulit pengidapnya. Masa inkubasinya sekitar 9-90 hari, dengan rata-rata 21 hari. Bakteri penyebab frambusia sendiri hampir serupa dengan bakteri pemicu sifilis. Namun, bakteri ini tidak dapat menular melalui kegiatan seksual seperti penyakit sifilis. Selain itu, bakteri ini juga tidak menyebabkan penularan pada janin dalam kandungan di masa kehamilan.

Faktor Risiko Frambusia

Ada berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit frambusia, antara lain:

-          Lingkungan yang kumuh.

-          Usia di bawah 15 tahun.

-          Tinggal berdekatan dengan pengidap frambusia.

      Selain itu, seseorang yang tinggal di wilayah endemik juga berisiko mengalami frambusia. Hingga tahun 2023, WHO mencatat ada 13 negara yang diketahui endemik frambusia. Oleh karena itu, WHO mengklasifikasikan negara menjadi tiga kelompok epidemiologi, antara lain:

Kelompok A: negara-negara dengan status endemik yang diketahui saat ini.

Kelompok B: negara yang sebelumnya endemik, namun status terkini tidak diketahui.

Kelompok C: negara-negara yang tidak memiliki riwayat penyakit frambusia.

Gejala Frambusia

Penyakit ini akan muncul dalam beberapa tahap. Biasanya, saat masih dalam tahap pertama dan kedua, frambusia akan lebih mudah untuk mendapatkan pengobatan. Sementara itu, saat ditemukan pada gejala yang parah atau memasuki tahap ketiga, kondisi ini menjadi lebih sulit untuk mendapatkan penanganan.

Hal ini karena, gejala pada tahap ketiga dapat melibatkan perubahan yang kompleks pada tulang di berbagai bagian tubuh.

1. Gejala tahap pertama

Frambusia pada tahap pertama biasanya terjadi pada anak usia dini. Puncak tahapan pertama biasanya akan berlangsung cukup lama hingga anak mencapai usia enam tahun. Setelah 3-5 minggu terpapar bakteri yang memicu frambusia, maka pengidap akan memiliki benjolan atau kutil yang muncul pada kulit. Benjolan ini dikenal juga sebagai frambesioma atau mother yaw. Benjolan ini akan membesar dan membentuk kerak kering tipis berwarna kuning. Kondisi tersebut dikenal juga sebagai lesi papillomatosis. Pertumbuhan benjolan akan muncul sesuai dengan lokasi masuknya bakteri ke dalam tubuh. Biasanya, benjolan akan muncul pada bagian tungkai hingga kaki. Mother yaw dapat menghilang dengan sendirinya dalam waktu 3-6 bulan.

2. Gejala tahap kedua

Gejala kedua akan muncul beberapa minggu setelah gejala pertama. Luka pada kulit akan muncul pada beberapa bagian tubuh, seperti wajah, lengan, kaki, dubur, hingga sekitar alat kelamin. Luka ini dapat sembuh, tetapi dapat muncul kembali secara berulang. Lesi pada tahap pertama juga dapat mengalami retakan dan ulserasi yang memicu rasa nyeri. Kondisi ini dapat membuat pengidap frambusia mengalami perubahan pada posisi saat berjalan atau crab yaws. Pada tahap ini, infeksi bakteri sudah dapat menyebabkan gangguan pada persendian dan tulang, tetapi belum menyebabkan kerusakan pada bagian tersebut. Biasanya, pengidap dapat mengalami pembengkakan kelenjar getah bening. Selain itu, ruam atau lesi yang muncul dapat berubah menjadi kecoklatan.

3. Gejala tahap ketiga

Jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat, frambusia dapat memasuki gejala tahap ketiga. Hanya sekitar 10% pengidap frambusia mengalami tahapan ini.

Pada tahap ini, pengidap dapat mengalami kerusakan yang cukup parah pada kulit, tulang, hingga persendian. Frambusia yang penanganannya terlambat pun dapat menyebabkan cacat pada bentuk wajah, yaitu sindrom gangosa atau mutilans rinofaringitis. Hal ini terjadi dengan menyerang dan menghancurkan bagian hidung, rahang atas, langit-langit, dan tenggorokan. Jika pembengkakan pada sekitar hidung tidak diatasi dengan baik, kondisi ini menyebabkan sakit kepala dan keluar cairan dari hidung.

Diagnosis Frambusia

Ada beberapa pemeriksaan yang bisa mendiagnosis penyakit ini, seperti:

1. Pemeriksaan fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada bagian tubuh yang mengalami gejala terkait dengan frambusia. Karena mayoritas pengidap frambusia merupakan anak usia di bawah 15 tahun, maka dokter juga akan mempertimbangkan dari sisi usia untuk menetapkan penyakit ini.

Dokter akan memastikan pemeriksaan fisik dengan mencari tanda spesifik, seperti:

-          Luka tanpa rasa sakit.

-          Pertumbuhan kutil pada beberapa bagian tubuh.

-          Penebalan pada kulit sekitar tangan dan kaki.

2. Pemeriksaan lanjutan

Pemeriksaan lanjutan melalui tes aglutinasi partikel Treponema pallidum berfungsi untuk menemukan infeksi bakteri Treponema. Dokter juga dapat melakukan biopsi dengan mengambil sampel jaringan pada luka untuk pemeriksaan lanjutan di laboratorium.

Pengobatan Frambusia

Frambusia menjadi sangat mudah diobati ketika ditemukan pada gejala tahap pertama. Dengan menggunakan suntikan antibiotik, maka penyakit ini dapat ditangani dengan baik. Namun, gejala yang telah memasuki tahap ketiga membutuhkan suntikan antibiotik sebanyak tiga dosis mingguan (seminggu sekali, sebanyak 3 kali). Hingga kini, tidak ada pengobatan yang bisa mengatasi kerusakan pada wajah atau tulang pada pengidap frambusia. Pengobatan yang diberikan hanya ditujukan untuk mengatasi infeksi, agar kondisi pengidap tidak semakin memburuk.

Berikut ini sejumlah obat antibotik yang umum direkomendasikan untuk mengatasi frambusia:

1. Azithromycin

Azithromycin merupakan obat antibiotik yang bekerja dengan cara menghentikan pertumbuhan bakteri di dalam tubuh. Dengan begitu, sistem kekebalan tubuh akan lebih mudah dalam membunuh bakteri.  Obat ini biasanya diberikan pada pengidap frambusia dalam bentuk oral. Dosis dan aturan pakai biasanya ditentukan oleh dokter, sesuai dengan kondisi pasien. Cari tahu selengkapnya, berikut ini Dosis dan Aturan Pakai Azithromycin yang Benar.

2. Penisilin benzatin

Penisilin benzatin biasanya diberikan apabila pengobatan menggunakan azithromycin sudah tidak efektif. Obat antibiotik ini bermanfaat untuk mengobati infeksi bakteri penyebab frambusia.

Obat ini biasanya diberikan oleh dokter dalam bentuk suntikan atau infus, yang dosisnya disesuaikan dengan kondisi tubuh pengid

Komplikasi Frambusia

Frambusia yang tidak ditangani dengan cepat dan tepat dapat memicu sejumlah komplikasi seperti:

-          1. Kerusakan pada kulit wajah.

-          2. Kerusakan pada tulang yang menyebabkan gangguan gerak.

-          3. Kelainan bentuk tubuh mulai dari kaki, hidung, hingga rahang.

-          4. Terbentuknya jaringan parut di tubuh.

-          5. Infeksi bakteri sekunder yang dapat memperparah kondisi frambusia.

-          6. Selain menurunkan rasa percaya diri, komplikasi frambusia dapat mengganggu kehidupan pengidap sehari-hari.

Pencegahan Frambusia

1. Tidak ada pencegahan untuk penyakit frambusia. Namun, kamu bisa menurunkan risiko dengan melakukan beberapa hal berikut ini:

-        2. Tidak mengunjungi negara atau daerah yang menjadi lokasi endemik penyakit frambusia.

-        3. Jangan lupa untuk selalu menggunakan alas kaki.

-        4. Pastikan kamu menutup luka dengan tepat saat berkegiatan di kawasan yang kumuh.

-       5. Selalu mencuci tangan dan membersihkan tubuh setelah melakukan kontak dengan banyak orang.

CARA PENGOBATAN / PENANGGULANGAN


Dalam upaya Eradikasi Frambusia, strategi utama yang harus dilakukan adalah intensifikasi penemuan kasus Frambusia dan pelaporan setiap kasus Frambusia yang ditemukan ke dinas kesehatan kabupaten/kota sesegera mungkin. Pada desa pasca POPM total penduduk, apabila kemudian ditemukan kasus Frambusia konfirmasi, maka segera dilakukan upaya penghentian penularan Frambusia dengan metode POPM kasus dan kontak. Pemberian obat pencegahan massal total penduduk atau disebut POPM total penduduk adalah memberikan obat pencegahan kepada semua penduduk di desa endemis secara serentak (total penduduk) diikuti dengan intensifikasi surveilans serta POPM kasus dan kontak agar mata rantai penularan Frambusia dapat dihentikan di seluruh wilayah Kabupaten/Kota.

              Obat yang digunakan dalam POPM Frambusia adalah Azitromisin dosis tunggal. Bentuk sediaan berupa sirup kering, tablet, atau kaplet. Obat dapat diberikan pada saat perut kosong (1 (satu) jam sebelum makan) atau 2 (dua) jam sesudah makan. Namun, untuk meminimalkan efek mual sebaiknya diberikan setelah makan. Cara pemberian obatnya, yaitu Obat Azitromisin diberikan per oral. Apabila terjadi reaksi alergi terhadap azitromisin, maka obat alternatif lain dapat diberikan, Pada daerah yang dilakukan kegiatan POPM Kontak Kasus setelah POPM total penduduk tidak tersedia obat Azitromisin, maka dapat digunakan obat lain sesuai rekomendasi ahli. Obat Azitromisin diberikan dengan dosis 30 mg/kg berat badan (maksimum 2 gram) atau dosis menurut umur (dosis tunggal). Obat harus diminum di depan petugas.

sumber : Permenkes Nomor 8 tahun 2017 tentang Eradikasi Frambusia